Peranan Lembaga Pemasyarakatan dalam Melakukan Pembinaan terhadap Narapidana Lanjut Usia

  • Andi Kaisar Agung Saputra Aswar Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pengayoman
  • H. M. Yasin Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pengayoman
Keywords: Elderly, Guidance, Prison, Prisoners

Abstract

The purpose of this study is to describe the role of Class II A Watampone Penitentiary in providing guidance and determine the factors that influence the part of the Class II A Prison in Watampone in giving direction to elderly prisoners based on Law No. 12 of 1995. This research was conducted at Class II A Watampone Penitentiary. This study uses an empirical approach to examine the efforts to develop elderly prisoners in Class II A Watampone Prison according to the reality in the field and is connected with the prevailing laws and regulations. This study's results indicate that the development of elderly prisoners at the Class II A Watampone Prison is in accordance with Law No. 12 of 1995 as the basic principle of all activities in LAPAS. Guidance for elderly prisoners is carried out through personality development and independence development. Patterns of personality development include fostering religious awareness, fostering national and state awareness, fostering intellectual abilities (intelligence), fostering legal awareness, fostering healthy reintegration with society, and fostering physical and spiritual health. The self-reliance pattern is given in the work service activity program by providing work skills based on groups that are determined and according to talents. The factors that influence the efforts to guide elderly prisoners in Class II A Watampone Prison, namely: facilities and infrastructure, human resources and other factors related to elderly prisoners.

Author Biography

Andi Kaisar Agung Saputra Aswar, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pengayoman

Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Pengayoman, Watampone

References

A. Syamsu Alam & Amir Ilyas. (2012). Pengantar Kriminologi. Makassar: Pustaka Refleksi.

A. Widiada Gunakaya. (1988). Sejarah dan Konsepsi Pemasyarakatan. Bandung: CV. Armico.

Abdullah Marlang., I. Irwansyah., & Kaisaruddin Kamaruddin. (2011). Pengantar Hukum Indonesia. Makassar: AS Publishing.

Alyatama Budify., Jelitamon Ayu Lestari Manurung., & Satria Braja Harianja. (2020). Pembatalan Akta Hibah di Pengadilan Negeri Pematangsiantar: Kajian Putusan Nomor 33/Pdt.G/2019/PN.Pms. SIGn Jurnal Hukum, CV. Social Politic Genius (SIGn), 2(1), hlm. 72-85. doi: https://doi.org/10.37276/sjh.v2i1.77

Andi Hamzah. (2003). Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Andi Istiqlal Assaad. (2017). Hakikat Sanksi dalam Perspektif Hukum Pidana Indonesia dan Hukum Pidana Islam (Studi tentang Pidana Mati). Al-Ishlah: Jurnal Ilmiah Hukum, Universitas Muslim Indonesia, 19(2), hlm. 50-64.

Ateng Syafrudin. (2000). Menuju Penyelenggaraan Pemerintahan Negara yang Bersih dan Bertanggung Jawab. Jurnal Pro Justisia, Universitas Parahyangan, 4(1)

Bambang Waluyo. (1996). Penelitian Hukum dalam Praktek. Jakarta: Sinar Grafika.

Berlian Simarmata. (2011). Pemberian Remisi terhadap Narapidana Koruptor dan Teroris. Mimbar Hukum, Universitas Gadjah Mada, 23(3), hlm. 501-519.

C. I. Harsono. (1995). Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan.

Farrel Alanda Fitrah. (2021). Perbandingan Hukum terkait Pembentukan Pasal Penghinaan terhadap Peradilan, Perzinahan, dan Santet dalam RKUHP Indonesia. SIGn Jurnal Hukum, CV. Social Politic Genius (SIGn), 2(2), hlm. 122-137. doi: https://doi.org/10.37276/sjh.v2i2.93

H. D. Stout. (1994). De Betekenissen van de Wet. Zwolle: W.E.J. Tjeenk Willink.

Hans Kelsen. (1995). Teori Hukum Murni: Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriptif (Terj. oleh Somardi). Jakarta: Rimdi Press.

Hasan Basri. (2021). Perlindungan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana berdasarkan Sistem Peradilan Pidana Indonesia. SIGn Jurnal Hukum, CV. Social Politic Genius (SIGn), 2(2), hlm. 104-121. doi: https://doi.org/10.37276/sjh.v2i2.90

Hassan Shadily. (2003). Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Herman Bakir. (2007). Filsafat Hukum: Desain dan Arsitektur Kesejarahan. Bandung: Refika Aditama.

Indroharto. Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik, dalam Paulus Effendi Lotulung (Ed.) (1994). Himpunan Makalah Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01-PR.07.03 Tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemasyarakatan.

La Ode Husen, et al. (2017). Iktisar Filsafat Ilmu: Dalam Perspektif Barat dan Islam. Makassar: CV. Social Politic Genius (SIGn).

La Ode Husen. (2019). Negara Hukum, Demokrasi dan Pemisahan Kekuasaan. Makassar: CV. Social Politic Genius (SIGn).

M. Yasin. (2018). Membangun Kapasitas Fungsi Pengawasan DPRD dan Optimalisasi Pelayanan Sekretariat DPRD dan Memahami Korupsi dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara. Gowa: Pusaka Almaida.

Muslim Mamulai. (2017). Hakikat Pembuktian melalui Media Elektronik dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Al-Ishlah: Jurnal Ilmiah Hukum, Universitas Muslim Indonesia, 19(1), hlm. 1-17.

P. A. F. Lamintang & Franciscus Theojunior Lamintang. (2014). Dasar-Dasar Hukum Pidana di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-05.0T.01.01 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.01-PR.07.03 Tahun 1985 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemasyarakatan. (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 751).

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2018 tentang Perlakuan bagi Tahanan dan Narapidana Lanjut Usia. (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1518).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 69. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3846).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1999 tentang Kerjasama Penyelenggaraan Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 111. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3857).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 61. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4632).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 225. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5359).

Petrus Irwan Panjaitan & Pandapotan Simorangkir. (1995). Lembaga Pemasyarakatan: Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana Penjara. Jakarta: PT. Pustaka Sinar Harapan.

Rohmad Taufiq. (2018). Meningkatkan Sistem Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) sebagai Upaya untuk Memaksimalkan Penegakan Hukum. Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Institut Agama Islam Negeri Kudus, 9(1), hlm. 198-209. doi: http://dx.doi.org/10.21043/yudisia.v9i1.3680

Roysimon Wangkanusa. (2017). Perlindungan HAM bagi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Lex Administratum, Universitas Negeri Semarang, 5(2), hlm. 37-44.

Said Sampara & La Ode Husen. (2016). Metode Penelitian Hukum. Makassar: Kretakupa Print.

Sarlito Wirawan Sarwono. (2015). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Septa Juliana. (2015). Pelaksanaan Pembinaan Kemandirian Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Bengkalis Kabupaten Bengkalis. Wedana: Jurnal Kajian Pemerintahan, Politik dan Birokrasi, Universitas Islam Riau, 1(1), hlm. 25-40.

Soedjono Dirdjosisworo. (1992). Sejarah dan Azas Penologi (Pemasyarakatan). Bandung: CV. Armico.

Sudarsono. (2007). Kamus Hukum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudikno Mertokusumo. (2000). Penemuan Hukum Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Liberty.

Titis Anindyajati., Irfan Nur Rachman., & Anak Agung Dian Onita. (2015). Konstitusionalitas Norma Sanksi Pidana sebagai Ultimum Remedium dalam Pembentukan Perundang-Undangan. Jurnal Konstitusi, Mahkamah Konstitusi RI, 12(4), hlm. 872-892. doi: https://doi.org/10.31078/jk12410

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1960 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1921).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 77. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3614).

W. J. S. Poerwadarminta. (1987). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Widhy Andrian Pratama. (2019). Penegakan Hukuman Mati terhadap Pembunuhan Berencana. SIGn Jurnal Hukum, CV. Social Politic Genius (SIGn), 1(1), hlm. 29-41. doi: https://doi.org/10.37276/sjh.v1i1.34

Published
2021-05-26
Section
Articles